KNTI Aceh Besar dan LSM Lakukan Aksi Bersih Pantai di Lhoknga

LSM
Aksi tanam Mangrove dan bersih pantai oleh KNTI Aceh Besar dan LSM dalam rangka hari nusantara

Terkini.id, Aceh Besar – Dalam rangka memperingati hari Nusantara 2020, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Aceh Besar,Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Teupin Gaki Tuan dan sejumlah LSM, hari ini, Minggu 20 Desember 2020 mengelar Bakti Sosial (Baksos) Bahari dengan melakukan aksi bersih pantai dan penanaman mangrove di lokasi Wisata Teupin Gaki Tuan,Gampong mon Ikeun Lhoknga, Aceh Besar.

Kegiatan ini turut didukung dan dihadiri oleh sejumlah pihak dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan organisasi yang konsen terhadap nelayan tradisional dan masyarakat pesisir. 

Beberapa LSM atau organisasi yang ikut berpartisipasi tersebut antara lain, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Koalisi Untuk Advokasi  Laut Aceh (KuALA)  Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) dan Gampong Developmen Institute Aceh ( GDI A) serta beberapa lembaga lainnya.

Kegiatan ini juga didukung oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan olahraga Aceh Besar, Dinas Perikanan dan kelautan Aceh Besar.

Dewan Pembina KNTI Aceh Besar, Muslahuddin Daud mengatakan kalau kegiatan ini  sebagai wahana edukasi kepada publik bahwa kelestarian lingkungan harus dijaga dengan melibatkan banyak pihak, terutama nelayan itu sendiri sebagai user utama hasil produksi laut.

Menurut Muslahuddin, kesadaran kolektif menjadi sangat penting untuk mencapai tujuan tersebut pelestarian lingkungan. Untuk itu KNTI dan Pokdarwis  Gaki Tuan berusaha menjadi role model agar proses pembersihan pantai dan penanaman mangrove ini tidak hanya dilakukan pada hari ini saja.

“Kami tentu saja berharap ini bisa menjadi rutinitas atau kerja keseharian, sehingga kerja multi pihak ini bisa berdampak lebih luas,” ujar Muslahuddin kepada awak media.

Sementara itu Ketua KNTI Aceh Besar, Mulyadi kepada media ini mengatakan bahwa kegiatan hari ini untuk membangkitkan kesadaran masyarakat pesisir dan nelayan serta pengelola wisata untuk menjaga kebersihan termasuk mengalakkan kembali penanaman mangrove di pantai.

“Sebagai Ketua KNTI Aceh Besar tentu saja saya berharap pemerintah baik ditingkat pusat, provinsi dan kabupaten bisa serius memperhatikan nelayan tradisional dan masyarakat pesisir,” ujar Mulyadi.

Mantan Panglima Laot Lhoknga ini  berharap Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dan Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali bisa memperhatikan semua nelayan masyarakat pesisir khususnya yang berada di Aceh Besar.

“Kami juga berharap pemerintah bisa membantu masyarakat pesisir dan nelayan tradisional di Aceh Besar , khususnya Teupin Gaki Tuan Lhoknga dalam menata dan membangun kawasan ini menjadi lebih asri dan bersih,” ujar pria yang akrab disapa bang Mully kepada awak media.

Lalu Junaidi yang merupakan tim pakar KNTI Aceh Besar menyampaikan bahwa momentum hari Nusantara ini bisa menjadi saluran edukasi untuk masyarakat bahwa lingkungan itu perlu dirawat dan dijaga agar bisa secara terus – menerus bisa memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

“Sengaja kami memilih lokasi di pantai Lhoknga karena disini terdapat masyarakat nelayan dan pariwisata. Hal lain adalah kalau pantai bersih dan asri maka akan membuat semuanya lebih produktif dan nelayan akan mendapatkan ikan lebih banyak dan menjadi sumber pangan bagi masyarakat kita,” ujar pria yang juga dosen ilmu gizi Poltekkes Kemenkes RI Aceh tersebut.

Selanjutnya Sekjend Koalisi Advokasi untuk Laut Aceh (KuALA), Rahmi Fajri kepada media ini juga mengatakan bahwa kegiatan hari ini sebenarnya merupakan silahturahmi beberapa komunitas nelayan dan edukasi pengelolaan sampah dan penanaman mangrove.

Rahmi Fajri juga menambahkan bahwa informasi kalau saat ini nelayan tradisional di Indonesia khususnya di Acg sudah mulai membentuk beberapa organisasi, sehingga lebih kuat lagi gerakan di lapangan.

Rahmi yang juga aktif melakukan advokasi untuk masyarakat pesisir dan nelayan tradisional ini dalam wawancara dengan media ini juga mengungkapkan sejumlah kendala yang dihadapi nelayan di Aceh.

“Kendala yang dihadapi nelayan selama ini adalah Bahan Bakar Minyak (BBM). Misalnya saat musim timur, apalagi di akhir tahun banyak boat yang keluar. Tapi BBM terbatas dan banyak proyek – proyek yang mengunakan BBM,” ujar Rahmi Fajri kepada media ini.

Rahmi berharap pemerintah, terutama Pertamina bisa memplotkan langsung berapa kebutuhan BBM untuk nelayan setiap tahunnya.

“Sehingga nantinya BBM tidak lagi menjadi barang langka. Apalagi BBM bersubsidi seharusnya dinikmati oleh nelayan kecil tapi ini malah dinikmati oleh nelayan besar,” ujar Rahmi Fajri.

Pada kesempatan yang sama Ketua komunitas nelayan Teupin Gaki Tuan, Lhoknga, Muzakir mengungkapkan kondisi yang mereka hadapi saat ini. Menurut Muzakir, nelayan hari ini mengalami penurunan pendapatan akibat jumlah ikan sudah kurang.

“Posisi ikan saat ini sudah menjauh, lalu untuk bisa mendapatkan ikan lebih banyak kami membutuhkan keramba laut,” ujar Muzakir.

Saat ini menurut Muzakir, jumlah rumpon terlalu banyak di laut lepas. Sehingga mereka yang merupakan nelayan tradisional dan mencari ikan agak di pinggir pantai kesulitan mendapatkan ikan.

“Jumlah ikan yang kami dapat sangat berkurang. Hal ini disebabkan ikannya tidak mau lagi ke pinggir,” ujar Muzakir.

Usai penanaman mangrove dan pembersihan pantai, para tamu dan undangan melakukan acara makan bersama dengan menu ikan laut dengan tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19.(rls)

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Satgas Covid-19 Aceh Sosialisasi Prokes Covid-19 Pada Pelajar SMA 1 Pulo Aceh

Polisi Masih Menyelidiki Penyebab Ledakan di Banda Aceh

Bupati Pidie Bahas Pengembangan Pupuk Alami Untuk Lahan Pertanian di Aceh Dengan Balitbang Pertanian

Bupati Pidie Angkat Mantan Menteri Jadi Ketua Tim Penasehat

20 Ribu Lebih Dosis Covid-19 Tahap Dua Tiba di Aceh

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar